Profil Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Balai Arkeologi merupakan lembaga perpanjangan tangan kegiatan penelitian dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud di Jakarta. Awal pembentukan Unit Pelaksana Teknis (UPT) ini merupakan bagian dari usaha Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kala itu­­ untuk memudahkan penyusunan kebijakan teknis dan kegiatan penelitian arkeologi di beberapa daerah di Indonesia. Didasari oleh kebutuhan tersebut, kementerian membentuk UPT dengan nama pertama kali Balai Arkeologi Ujung Pandang dengan pengesahan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0274/0/1993 pada tanggal 9 Juli 1993 yang disahkan oleh Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro di Jakarta. Surat Keputusan menteri ini sekaligus membentuk pula UPT lain yaitu, Balai Arkeologi Medan dan Balai Arkeologi Banjarmasin.

Sejak dibentuk, Balai Arkeologi Ujung Pandang pertamakali berkantor bersama UPT Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) pada bangunan dalam kompleks Benteng Pannyua atau yang lebih dikenal dengan Benteng Ujung Pandang atau Fort Rotterdam di jalan Ujung Pandang Nomor 1, Kota Makassar. Kantor bersama ini ditempati selama kurang lebih 5 tahun dan kemudian pada tahun 1998 Balai Arkeologi Ujung Pandang berpindah lokasi kantor ke jalan Pajjaiyyang No. 13, Sudiang, Makassar.

Pada tahun 2000, dengan adanya perubahan nama Kota Ujung Pandang menjadi Kota Makassar, perubahan nomenklatur pada lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan juga turut berubah nama dari Balai Arkeologi Ujung Pandang mejadi Balai Arkeologi Makassar. Dibawah koordinasi Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata pada Departemen Kebudayaan dan Pariwisata hingga tahun 2004 perubahan nomenklatur kelembagaan kembali berubah dari Balai Arkeologi Makassar menjadi Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan. Setelah aktif beroperasi melakukan kegiatan penelitian dan pengumpulan data survei-ekskavasi di wilayah kerja Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara, lembaga UPT ini kembali berubah nama menjadi Balai Arkeologi Makassar pada tahun 2014. Hingga pada tahun 2016, perubahan nama kembali terjadi menjadi Balai Arkeologi Provinsi di Makassar.

Perubahan nomenklatur ini tidak bertahan lama. Sampai pada tahun 2017 dengan adanya peralihan dan perpindahan satuan kementerian dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan nama UPT ini ikut pula terganti menjadi Balai Arkeologi Sulawesi Selatan dan masih tetap digunakan sampai sekarang.

Dalam melaksanakan tugasnya sebagai lembaga UPT pemerintah pusat, Balai Arkeologi menyelenggarakan fungsinya berdasarkan Surat Keputusan Menteri No. 56 Tahun 2012, yaitu:

(a) Pencarian benda-benda arkeologi;

(b) Pelaksanaan analisis dan interpretasi benda-benda arkeologi;

(c) Perawatan dan Pengawetan benda arkeologi hasil penelitian;

(d) Publikasi dan Dokumentasi hasil penelitian benda-benda arkeologi; dan

(e) Pelaksanaan Urusan Ketatausahaan Balai.

Para Tokoh yang Memimpin Lembaga Balai Arkeologi Sulawesi Selatan sejak 1993 – 2019

  1. Tahun 1994 – 1997, Balai Arkeologi Ujung Pandang dipimpin oleh Prof. Dr. Darmawan Mas’ud Rahman, M. Sc.
  2. Tahun 1997 – 2001, Balai Arkeologi Ujung Pandang berubah nama menjadi Balai Arkeologi Makassar dipimpin oleh Dr. Ali Fadillah
  3. Tahun 2001 – 2003, Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan dipimpin oleh Drs. Sabiruddin Sila
  4. Tahun 2003 – 2012, Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan dipimpin oleh Drs. Muhammad Husni, M. M.
  5. Tahun 2012 – 2015, Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan berubah nama menjadi Balai Arkeologi Makassar dipimpin oleh Drs. Gusti Made Sudarmika
  6. Tahun 2016 – sekarang, Balai Arkeologi Makassar berubah nama menjadi Balai Arkeologi Sulawesi Selatan dipimpin oleh M. Irfan Mahmud, S. S., M. Si.

 934 total views,  6 views today