DESKRIPSI LENGKAP

Indonesia   adalah  negara dengan  beragam budaya,   agama,  ras, etnis,  suku,  dan  bahasa, sehingga  Indonesia   kaya  akan  keberagaman budaya  yang  terlihat dari  berbagai  peninggalan sejarah. Misalnya  dari segi agama, ada candi Borobudur dan Prambanan  sebagai peninggalan kerajaan  Hindu-Budha.   Berbagai  masjid dan  istana kesultanan  di  berbagai wilayah  sebagai peninggalan  kesultanan Islam. Lalu  kemunculan berbagai macam etnis dari luar nusantara juga ditandai dengan berbagai macam peninggalan sejarah, diantaranya benteng Fort Rotterdam sebagai peninggalan  masa kolonialisme  barat dan Gong  Nekara  sebagai peninggalan etnis Cina  yang berdagang di Nusantara.

Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki beragam peninggalan sejarah yaitu Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Peninggalan sejarah yang terkenal di Kepulauan  Selayar antara lain adalah Masjid Tua Gantarang, Gong Nekara,  dan Jangkar Raksasa. Berikut ini penjelasan lebih rinci tentang ketiga peninggalan bersejarah tersebut:

1.    Masjid Tua Gantarang Lalang Bata

Salah satu peninggalan Islam dan budaya di Kepulauan Selayar Sulawesi Selatan yaitu Masjid Tua Gantarang atau Masjid Awaluddin. Masjid ini terletak sekitar 12 km dari kota Benteng yaitu di atas puncak bukit Dusun Gantarang Lalang Bata, Desa Bontomarannu, Kecamatan Bontomanai, Kepulauan  Selayar. Meskipun  berada di pelosok desa dengan akses yang cukup susah, obyek wisata sejarah dan budaya ini  tak pernah lepas dari perhatian penikmat sejarah. Perkampungan Gantarang Lalang  Bata  juga telah resmi terdaftar sebagai salah satu kawasan cagar budaya unggulan di Selayar.

Situs bersejarah ini tergolong sangat unik karena bangunan masjidnya didirikan di atas sebuah sumur di tengah areal perkampungan yang ditutupi dengan sebuah dulang (baki) emas. Selain itu, masjid ini memiliki ciri khas tersendiri yang sangat jelas terlihat dari konstruksi atap tumpang dan mustika di bagian puncaknya. Masjid Tua Gantarang ini didirikan pada abad ke-16 M pada masa pemerintahan Sultan Pangali Patta Raja yang merupakan raja pertama yang memeluk agama Islam. Masjid ini menjadi bukti peninggalan dari tokoh penyebar ajaran Syariat Islam  pertama di daratan Provinsi Sulawesi Selatan yang bernama Datuk Ribandang.

Awalnya, Datuk Ribandang  mendapat perintah dari Raja Arab dan  Khalifahnya  untuk berangkat dan menyebarluaskan  ajaran syariat Islam  di Maluku dan Buton. Usai mengislamkan raja Maluku dan Buton, dalam perjalanannya menuju Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang  singgah  untuk  pertama kali  di  Kabupaten  Selayar dengan  melintasi  jalur pantai Babaere,  dan masuk ke kampung Gantarang Lalang Bata. Di kampung Gantarang Lalang Bata

Datu Ribandang  untuk pertama kalinya  mengislamkan masyarakat bernama I Puso. Dia adalah manusia pertama yang ditemui Datu Ribandang  saat sedang memancing ikan  di  bibir   pantai Ngapalohe, disusul  Karaeng   Gantarang,  I Pangali  Sultan  Patta Raja.  Sesudah  mengislamkan karaeng Gantarang, I Pangali Sultan Patta Raja, Datu Ribandang kembali melanjutkan perjalanan menuju  ke  Kabupaten  Gowa  untuk  mengislamkan  raja Gowa.  Sehingga  dengan  demikian, sejumlah pakar sejarah menyepakati bahwa kerajaan Gantarang, lebih awal menerima masuknya ajaran syariat Agama Islam  dari pada kerajaan Gowa.

Pada  saat yang  bersamaan Datu  Ribandang   sempat  menitipkan   beberapa  benda-benda peninggalan  yang  memperkuat fakta  sejarah bahwa  Datu  Ribandang   pernah  singgah  dan menapakkan kaki di Kabupaten Kepulauan Selayar. Benda-benda  tersebut diantaranya tongkat menyerupai pedang pusaka, mimbar lengkap dengan bendera kain putih di sisi kiri-kanannya yang bertuliskan bahasa Arab, khutbah Jumat, Khutbah IdulFitri  dan Khutbah IdulAdha.

2.    Gong Nekara

Gong nekara adalah gong perunggu buatan kebudayaan Dong Son, yang terdapat di delta Sungai Merah Vietnam Utara. Gong ini diproduksi pada sekitar 600 tahun sebelum masehi atau sebelumnya,  sampai abad ketiga Masehi. Dengan menggunakan metode pengecoran logam yang telah hilang  (lost wax method),  gong ini oleh para peneliti sejarah dianggap sebagai salah satu contoh terbaik dari  budaya  pengerjaan logam.  Gong  Nekara  ini  mempunyai  3 fungsi  pada masanya,  yakni fungsi Keagamaan,  Sosial-Budaya,  dan Politik. Fungsi keagamaan yaitu sebagai alat komunikasi, upacara, dan simbol. Sementara fungsi sosial budaya yaitu sebagai simbol status sosial, perangkat upacara dan karya seni yang mempunyai daya magis religius. Sedangkan fungsi politik yaitu sebagai tanda bahaya atau isyarat perang.

Gong Nekara mempunyai luas lingkaran sebesar 396 cm persegi, luas lingkaran pinggang 340 cm persegi, dan tinggi 95 cm persegi. Keunikan yang dimiliki gong yang dikenal sakral itu adalah adanya gambar bermotif flora dan fauna terdiri dari gajah 16 ekor, burung 54 ekor, pohon sirih 11 buah dan ikan 18 ekor. Sementara dipermukaan gong bagian atas terdapat 4 ekor arca berbentuk kodok dengan panjang 20 cm dan di samping terdapat 4 daun telinga yang berfungsi sebagian pegangan. Pada bidang pukul terdapat hiasan geometris, demikian pula pada bagian tengah gong terdapat garis pola bintang berbentuk 16. Nekara secara vertikal terdiri atas susunan kaki berbentuk bundar seperti silinder,  badan dan bahu berbentuk cembung.

Gong Nekara   atau disebut The Bronzen Drum ini  terletak di  Bontobangung, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Selayar. Gong ini diyakini merupakan gong terbesar dan tertua di dunia. Gong peninggalan  China  tersebut ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang penduduk  dari Kampung  Rea-Rea   yang  bernama  Sabuna  pada  tahun  1686. Pada  saat  itu  Sabuna  sedang mengerjakan sawah Raja Putabangun di Papaniohea,  tiba-tiba cangkul Sabuna membentur benda keras  yang  ternyata adalah  hiasan  katak  yang  merupakan  bagian  dari  gong  nekara.  Sejak

berakhirnya  Dinasti   Putabangun,  pada  tahun  1760 gong  nekara  tersebut dipindahkan   ke

Bontobangun dan menjadi kalompoang/arajang (benda keramat) Kerajaan  Bontobangun.

Legenda mengenai keberadaan Gong Nekara  di Pulau Selayar berasal dari 2 (dua) sumber. Sumber yang pertama yaitu cerita mitos Sawerigading yang berkembang pada periode Galigo, suatu   periode  kekuasaan   manusia   dewa  yang   mengatur  tata  tertib  dunia   dengan   pola kepemimpinan   religius  kharismatis.  Sawerigading  ditempatkan  sebagai  tokoh  utama  dalam perwujudan tata tertib dan penataan pertama masyarakat Bugis  – Makassar di Sulawesi Selatan. Periode Galigo  diperkirakan berlangsung  sekitar abad ke-7 sampai abad ke-10 tetapi Christian Pelras menempatkannya pada sekitar abad ke-12.

Sumber yang kedua adalah naskah hukum pelayaran dan perdagangan Ammana Gappa (abad

17) dimana Pulau Selayar disebut sebagai salah satu daerah tujuan niaga. Letaknya sangat strategis bagi pelayaran yang menuju ke timur maupun ke barat. Dengan demikian Pulau Selayar menjadi bandar transit bagi lalu lintas pelayaran kala itu. Di dalam naskah itu juga disebutkan tentang daftar sewa bagi orang yang berlayar dari Makassar ke Aceh, Kedah,  dan Kamboja,   yaitu  7 rial tiap seratus orang dan apabila naik dari tempat tersebut menuju Selayar, Malaka,  dan Johor, sewanya

6 rial tiap seratus orang.

Dari sumber tersebut memberikan keterangan tentang peranan Pulau Selayar dengan daerah- daerah di Nusantara dan Asia Tenggara. Hal ini memperkuat dugaan bahwa gong nekara mungkin didatangkan dari daratan Asia Tenggara pada waktu pengaruh kebudayaan Tiongkok berkembang di kawasan itu. Menurut cerita yang terkait dengan gong nekara di Pulau Selayar, dikatakan bahwa ketika Sawerigading bersama isterinya (We Cuddai) dan ketiga putranya (La Galigo, Tenri Dio, dan Tenri Balobo) kembali dari Tiongkok, dalam perjalanannya menuju ke Luwuk mereka singgah di Pulau Selayar dan langsung menuju ke suatu tempat yang disebut Putabangun dengan membawa sebuah nekara perunggu yang besar. Di tempat itu mereka dianggap sebagai Tumanurung. Pada saat itulah Tenri Dio dianggap menjadi raja pertama di Putabangun dan menempatkan gong nekara itu sebagai kalompoang di Kerajaan Putabangun.

Dari  cerita  itu  dapat  disimpulkan   bahwa  Gong   Nekara  dibawa  dari  Tiongkok  oleh Sawerigading. Yang dimaksud dengan Tiongkok di sini,  mungkin adalah Indo China. Selain itu, masyarakat juga menganggap bahwa hanya ada dua gong nekara di dunia, yaitu sebuah di Pulau Selayar dan sebuah lagi berada di Tiongkok. Gong nekara yang ada di Pulau Selayar dianggap sebagai suami dan yang ada di Tiongkok dianggap sebagai isteri. Hal ini mengingatkan kita pada nekara yang dipuja berpasangan di daerah Birma yang dipersonifikasikan sebagai pasangan suami isteri. Nekara yang di atasnya terdapat hiasan katak berukuran lebih tinggi melambangkan pria, sedangkan yang tidak memakai hiasan katak dan berukuran lebih kecil dan rendah melambangkan wanita.  Dengan   demikian  tampak  adanya  persamaan  nilai   simbolis  dari  negara  penganut kebudayaan perunggu khususnya gong nekara di Indonesia dan Asia Tenggara.

3.    Jangkar Raksasa

Di Dusun Padang, sekitar 8 km arah selatan kota Benteng, Kepulauan Selayar, terdapat sebuah peninggalan  sejarah yang  memiliki  nilai  history berupa jangkar raksasa yang  tersimpan pada sebuah ruangan khusus  yang  dikelola  pemerintah setempat. Jangkar yang  dilengkapi  dengan meriam itu  konon merupakan peninggalan  pedagang  Cina  pada abad 17-18. Konon  katanya, Jangkar Raksasa ini milik seorang saudagar China bernama Gowa Liong Hui yang mengadakan pelayaran menggunakan kapal besar dan singgah di Padang pada akhir abad XVII. Sampai suatu saat kapal dagang milik  Gowa Liong  Hui  ini  rusak hingga  tidak dapat lagi  digunakan  untuk berlayar. Kemudian  jangkar kapal ini  pun diamankan oleh penduduk  setempat yang akhirnya menjadi bukti sejarah.

Ada dua jangkar ditempat ini. Jangkar pertama berukuran,panjang batang: 226 cm, panjang lengkungan:  167 cm, dan lingkar  batang: 60 cm. Sementara jangkar kedua berukuran, panjang batang: 229 cm, panjang lengkungan: 117 cm dan lingkar  batang: 70 cm. Dari penuturan warga, ternyata bukan hanya wisatan lokal yang sering datang di tempat ini. Wistawan dan peneliti budaya dan sejarah dari luar negeri juga berdatangan di tempat ini. Untuk  meriam sendiri, jumlahnya 3 buah. Jika jangkar raksasa merupakan milik dari saudagar China, lain cerita dengan tiga meriam kuno yang ditempatkan di ruang yang sama ini. Konon,  pemilik meriam ini seorang saudagar dari Gowa keturunan Cina yang bernama Baba Desan.

Baba  Desan  datang ke Dusun  Padang bersama dengan  armada dagangnya  dalam rangka mencari perairan baru untuk mendapatkan hasil laut yang akhirnya dia menetap di Dusun Padang tersebut. Makanya  sekarang ini,   meriam tersebut dapat dijumpai di Dusun  Padang Kabupaten Kepulauan Selayar. Ukuran meriam ini bervariasi. Meriam I berukuran, panjang 117 cm, diameter mulut 17 cm, dan diameter lubang mulut 8 cm. Meriam II bekuran panjang 123 cm, diameter mulut

23 cm, dan diameter lubang  mulut  10 cm. Sementara meriam III berukuran,  panjang  125 cm,

diameter mulut 18 cm, dan diameter lubang mulut 8 cm.

SMAN 3 Selayar