Undangan Bedah Buku Kebudayaan Kalumpang Sulawesi Barat

Makassar, Balarsulsel—Balai Arkeologi Sulawesi Selatan mengundang khalayak umum dalam kegiatan Bedah Buku “Kebudayaan Kalumpang, Sulawesi Barat (3800 BP-400 AD)”. Kegiatan yang akan dilaksanakan pada kamis hingga jumat (4-5/06/2020) mengusung tema “Perubahan dan tenggelamnya Kebudayaan Kalumpang”. Kegiatan ini merupakan diskusi publik yang perdana yang akan dilaksanakan oleh Balar Sulsel dengan tujuan untuk meningkatkan minat masyarakat pada umumnya terkait dengan tinggalan sejarah yang ada di Indonesia.

Penyaji atau pemateri yang diundang merupakan pakar dalam bidangnya yang terkait dengan prasejarah dan penyunting dalam pembuatan buku.

Kegiatan yang terbagi menjadi dua sesi yang masing-masing sesi terbagi menjadi 3 orang pemateri dalam sehari dengan harapan ilmu yang dibagikan oleh narasumber dapat diserap secara optimal.  Dalam kegiatan bedah buku ini terdiri dari 6 pemateri yang profesional sehingga membutuhkan setidaknya 2 hari untuk mengupas tuntas.

Pemateri ini merupakan penerbit buku kebudayaan dan peneliti yang sebelumnya telah meneliti Kebudayaan Kalumpang terkait tinggalan sejarah yang ada di Kalumpang pada khususnya.

Adapun profil singkat dari masing-masing pemateri yaitu sebagai berikut:

  1. Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak merupakan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.­ Beberapa Publikasi terakhir dengan penulis lain yaitu Journal of Human Evolution yang diterbitkan oleh Academic Press. Truman juga dikenal aktif dalam meneliti kebudayaan Kalumpang dari tahun 2003 hingga 2006 yang pada saat itu menjabat sebagai ketua tim dengan nama “Proyek Penelitian Austronesia Sulawesi” yang bekerjasama dengan Balai Arkeologi Sulawesi Selatan.  Proyek tersebut terdiri dari beberapa anggota tim diantaranya: M. Irfan Mahmud, Fadlan S. Intan, Danang Wahyu Utomo, Nani Somba, Bernadeta AKW, Ngadiran, Muhammad Hamzah. Berdasarkan temuan arkeologis beberapa dekade sebelumnya, tim penelitian Austronesia yang dipimpin Truman Simanjuntak berasumsi bahwa Situs Minanga Sipakko merupakan transisi dari Neolitik ke Paleometalik (Simanjuntak, 1994-1995).
  2. Dr. Anggraeni, M.A.  Merupakan dosen dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang pernah menggeluti penelitian yang ada di Kalumpang, beliau juga aktif menulis dalam prasejarah yang ada di Indonesia yang bekerjasama dengan peneliti dari luar negeri. Anggraeni pernah menulis terkait kabudayaan Kalumpang. Kebudayaan Kalumpang hanya mengenal fase perunggu dan besi. Kakek buyut Orang Kalumpang tidak mengenal fase tembaga sebagaimana di Eropa dan pusat peradaban besar Asia: Cina, India, dan Asia Barat Daya. Di kawasan Kalumpang (Sulawesi Barat) kita telah menemukan situs masa Paleometalik setelah lebih dari 90 tahun kedatangan pertama Callenfels (1933). Lapisan pasca Neolitik Situs Pantaraan memiliki angka tahun di atas 2500 tahun silam (Anggraeini, 2012; Anggraeini et al., 2014).
  3. M. Irfan Mahmud, S.S., M.Si. merupakan Kapala Balai Arkeologi Sulawesi Selatan sejak 2016 sampai sekarang. Beberapa publikasi terakhir dengan penulis lainnya yaitu Artefak batu Preneolitik situs Leang Jarie: Bukti teknologi Maros point tertua di kawasan budaya Toalean, Sulawesi Selatan serta Buku yang saat ini kita kupas terkait kebudayaan Kalumpang dengan judul “Kebudayaan Kalumpang Sulawesi Barat (3.800 BP-400 AD). Belau aktif dalam berbagai penelitian salah satunya yaitu ikut dalam Proyek Penelitian Austronesia Sulawesi yang diketuai oleh Truman Simanjuntak.
  4. Drs Budianto Hakim merupakan peneliti prasejarah dari Balai Arkeologi Sulawesi Selatan, beliau aktif bekerja di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional sejak 1992-1998 dan di Balai Arkeologi Sulawesi Selatan sejak 1998 sampai sekarang. Publikasi terakhir dengan penulis lain yaitu Portable art from Pleistocene Sulawesi yang diterbitkan di Nature. Budianto Hakim aktif pertama kali meneliti kebudayaan kalumpang sejak ikut dalam penelitian yang terdiri dari Tim Dosen dan Mahasiswa arkeologi Universitas Hasanuddin. Hingga saat itu belau selalu aktif sebagai anggota dalam penelitian Kebudayaan Kalumpang.
  5. Dr. A MUHAMMAD AKHMAR, SS., M.Hum. aktif sebagai dosen Universitas Hasanuddin menjabat sebagai lektor. Belau juga merupakan Founder Masagena Press yang bergerak dalam bidang percetakan dan penerbitan buku. Belau juga aktif menulis, adapun publikasi terakhir belau yaitu PENCERITAAN DAN REFLEKSI HISTORIS DAN BUDAYA DALAM ROMAN SANG JENDERAL KARYA HERMAN JAN FRIEDERICY yang diterbitkan di jurnal Ilmu Budaya.
  6. Moch Hasymi Ibrahim merupakan alumnus Fakultas Ekonomi Unhas dan aktif sebagai Budayawan di Sulawesi Selatan.

Bagi anda yang berminat atau tertarik untuk mengikuti bedah buku, anda bisa buka link di berikut https://s.id/4balarsulsel/ atau bagi anda yang hanya ingin membaca bukunya anda bisa buka link berikut https://s.id/BudayaKalumpang. Seluruh peserta akan mendapatkan E-Sertifikat dengan syarat mengikuti seluruh rangkaian Bedah Buku Kebudayaan Kalumpang, Sulawesi Barat (3800 BP-400 AD) dari awal hingga akhir kegiatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *