Butta Toa “Jejak Arkeologi Budaya Taola, Logam, dan Tradisi Berlanjut di Bantaeng”

Panggung prasejarah merupakan episode terpanjang dalam perjalanan hidup manusia pada umumnya, sebagimana juga di Bantaeng. Selama 2500 tahun, Orang Toala sebagai penduduk asli Sulawesi (ras Australomelanesid), menghuni kawasan batu Ejaya, Bantaeng. Dengan populasi kecil, selama ribuan tahun dari 4700-2200 tahun silam mereka hanya meninggalkan beberapa situs pada ruang pemukinan terbatas, seluas ± 1 kilometer persegi.

Di Bantaeng, Orang Toala hidup berkelena merambah hutan, berburu fauna, dan meramu. Di sini digambarkan kemampuan adaptif mereka menjawab persoalan hidup sehari-hari, religi dan menghasilkan peralatan dari serpihan batu, tulang, dan gambar cerdas. Dari sini kita bisa tahu bahwa manusia prasejarah juga memiliki sistem teknologi sederhana, mampu melakukan inovasi serta memiliki apresiasi seni untuk menjawab keterbatasannya atas soal gaib (metafisika).

Sekitar 3500 tahun silam,orang Toala bertemu migran Austronesia yang membawa tradisi gerabah. Peristiwa itu menunjukkan arti penting sikap keterbukaan, kesadaraan berbeda dan saling membutuhkan, sebaliknya memberi bukti peristiwa marginalisasi dalam menghadapi budaya baru. jadilah Budaya Toala makin menipis, lalu hilang, seiring masuknya unsur logam sekitar 2300 tahun silam atau 300 SM dan selanjutnya orang Austonesia ikut membina tradisi megalitik. pertumbuhan tradisi megalitik cukup pesat, bahkan pengaruhnya menembus masyarakat modern Bantaeng masa kini.

Buku ini memberikan gambaran mengenai empat episode penting Bantaeng sebagai Butta Toa (=Kampong Tua): budaya Toala, kehadiran Austronesia pembawa gerabah, periode logam dan perwarisan, serta tradisi megalitik berlanjut. keempat episode itu menunjukan bukti tertua kebudayaan Bantaeng sebagai ‘Butta Toa’ (=Kampung Tua). Bukti Arkeologi dari sejumlah situs, antara lain berupa: teknologi alat serpih, alat tulang dan sisa fauna sumber makanan, wadah gerabah, perhiasan kerang, gelang perunggu, serta monumen megalitik dan tradisi berlanjutnya. Bukti tertua tersebut memberi gambaran legitimatif ‘Butta Toa’ serta hubungan primordial kebudayaannya dalam konteks Sulawesi

Penulis                                                 : M. Irfan Mahmud

                                                              Budianto Hakim

                                                              Hasanuddin

                                                              M. Nur

                                                              Bernadeta AKW.

                                                              Fakhri

                                                              Suryatman

                                                              Hasliana

Editor                                                  : M. Irfan Mahmud

                                                              Budianto Hakim

Desain Sampul                                    : Dian Qamajaya

tata Letak isi                                       : Ridwan

Tahun Terbit                                       : 2017

Ukuruan                                              : 16 x 24 cm

Jumlah Halaman                                 : xv + 195 Halaman

ISBN                                                     : 978-602-258-461-2

Penerbit                                              : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

                                                              Badan Penelitian dan Pengembangan

                                                              Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Dicetak oleh                                        : Ombak

Anda dapat mendownload melalui Link dibawah ini

Download

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *