Penandatanganan MoU antara FKG UH, FIB UH dan Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Makassar, Balar Sulsel–Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (FKG UH), Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (FIB UH) dan Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan (Balar Sulsel) sepakat melaksanakan penelitian yang menerapkan sistem kerjasama sebagai mitra/reviewer antara FKG UH, FIB UH dan Balar Sulsel.

Dekan FKG UH drg. Muhammad Ruslin, Sp. B.M. (K)., M.Kes., Ph.D. dan Kepala Balar Sulsel M. Irfan Mahmud, S.S., M.Si.

Kegiatan penandatanganan MoU dalam upaya tindak lanjut dari penelitan yang dilaksanakan Balar Sulsel pada tanggal 7 september sampai 1 oktober 2020 yang diketuai oleh Fakhri, S.S., terkait pembahasan yang diajukan pada pertemuan dengan drg. Muhammad Ruslin, Sp. B.M. (K)., M.Kes., Ph.D. selaku Dekan FKG pada Senin (07/09/2020). yang menyatakan bahwa perlunya membentuk tim riset bersama yang akan mengkaji secara lebih spesifik terkait temuan gigi dari situs Gua Codong yang diikat dalam satu MoU.

Gigi sangat penting dalam mengungkapkan dari aspek budaya, pola makan dan umur. gigi sangat berperang penting dalam mengetahui segala macam terkait DNA seseorang. Gigi memang tergolong kuat dan mampu bertahan lama selama ratusan ribu tahun. semua itu karena adanya email yang mampu melindungi gigi. ungkap dekan FKG UH

Wakil Dekan II FIB UH Dr. Andi Muhammad Akhmar, S.S., M.A., Wakil Dekan I FIB UH Dr. Fathur Rahman, M.Hum.,
dan Dekan FIB UH Prof. Dr. Akin Duli, M.A.

Dalam kegiatan tersebut Dekan FIB UH Prof. Dr. Akin Duli, M.A. juga menyatakan bahwa “dari gigi bisa dijadikan patokan untuk menentukan budaya dan ras serta usia seseorang sehingga itulah yang mampu mengikat antara ilmu kebudayaan dan ilmu sains (Kedokteran Gigi)”.

Dekan FKG UH membenarkan dan merespon pernyataan tersebut, kemudian menekankan bahwa penandatanganan MoU ini juga terkait dengan kolaborasi riset dan publikasi.

Kepala Balar Sulsel, M. Irfan Mahmud, S.S., M.Si.

M. Irfan Mahmud selaku kepala Balar Sulsel juga membenarkan dan menambahkan dari dekan FIB UH terkait gigi dikatakan juga bisa mengetahui suatu penyakit dan identifikasi penyakit dan kebiasaan seseorang.

“Dengan hadir dan terlibatnya FKG UH kami mengharapkan kolaborasi ini akan menguatkan dasar interpretasi dari temuan arkeologis yang didapatkan secara lebih luas terkait kebudayaan dan masa lalu. ungkap kepala Balar Sulsel.

Beliau juga memberikan motivasi kepada seluruh peneliti pentingnya melakukan riset yang mampu mengangkat pamor peneliti Indonesia dimata dunia. “Kita harus jadi peneliti Indonesia yang tidak hanya digandeng oleh peneliti dari luar Indonesia.” tegas Kepala Balar Sulsel.

Baca juga: Membangun Sinergitas dari Berbagai Cabang Ilmu yang Terkait

Kegiatan penandatangan MoU yang disahkan pada jum’at (16/10/2020) tersebut diinisiasi pertama kali oleh Dekan FKG UH untuk membentuk kerjasama riset yang dilaksanakan di ruang dekanat FKG UH. MoU penting untuk mengikat kesepemahaman antar institusi agar riset yang dilakukan bersinergi dan saling menguatkan.

Adapun isi kesepakatan MoU diantaranya:

  1. Konsultasi pembuatan proposal, pelaksanaan penelitian, manajemen data dan analisis penelitian.
  2. Kegiatan hibah penelitian bersama.
  3. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bersama.
  4. kegiatan penelitian dan publikasi bersama

Dalam kegiatan tersebut dihadiri oleh M. Irfan Mahmud, S.S., M.Si. selaku Kepala Balar Sulsel, Fakhri, S.S. selaku ketua tim penelitian terkait dengan temuan gigi manusia dari Situs Gua Codong, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan dalam kegiatan tersebut pula hadir para peneliti senior yaitu Budianto Hakim serta staf dan anggota tim penelitian yang terkait. Sedangkan dari FIB UH dihadiri oleh Dekan FIB UH, Wakil Dekan UH 1 dan Wakil Dekan UH 2. sedangkan dari FKG UH dihadiri oleh dekan FKG UH, Wakil Dekan UH 1 dan Wakil Dekan UH 2

Penandatanganan MoU oleh FKG UH, FIB UH, dan Balar Sulsel.

Sebagai dokumentasi kegiatan penandatanganan MoU diakhir foto bersama dari 3 lembaga pada jam 11.50 Wita diruang dekanat FKG UH.

Ikatan kerjasama yang berlaku selama 2 tahun tersebut diharapkan menjadi isu strategis untuk mengkolaborasikan ilmu budaya dan ilmu sains untuk membangun sinergitas bersama . [hs-py]

 439 total views,  2 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *