Situs Sela Melayu Selayar

Toponim yang termasuk dalam kekuasaan Kerajaan Buki di masa lalu memang cukup banyak dan tersebar pada beberapa lokasi. Sedang survei yang dilakukan tahun 2007 belum dapat menjangkau keseluruhan toponim tersebut. Oleh sebab itu, penelitian tahun 2008 ini berusaha menjangkau beberapa toponim sebagai pelengkap data dalam menjawab beberapa serpihan sejarah Selayar yang dirasa masih kabur, khususnya Kerajaan Buki sebagai pusat kekuasaan di Selayar di masa lalu (abad pertengahan).

Sumberdaya lingkungan (potensi air, tingkat kesuburan tanah, dan lenskap) di daerah Buki dan sekitarnya menjadi salah satu alasan utama terjadinya beberapa kali fase perpindahan pusat pemukiman sejak masa awal hingga berkembangnya Kerajaan Buki,  dan perpindahan pusat pemukiman pada fase selanjutnya di sebabkan oleh adanya intervensi pemerintahan Belanda, yaitu  memindahkan kampung-kampung tua yang berada di daerah pedalaman ke daerah tepi jalan desa (jalan utama). Alasan ini didasari oleh faktor kemudahan Belanda dalam mengontrol aktivitas masyarakat desa pada masa itu.

Bukti-bukti arkeologis yang tertinggal pada setiap lokasi yang pernah menjadi pusat pemukiman tersebut, memang sangat signifikan untuk menjelaskan kronologi situs beserta aktivitas masyarakatnya di masa lalu. Adapun situs-situs yang dapat disurvei tahun 2008, antara lain situs Sela Melayu dan Bonto-bonto.

Merupakan tanah datar yang berada di kaki bukit Buki dan secara astronomi menempati koordinat 05º59’13.3” Lintang Selatan dan 119º29’12.9” Bujur Timur atau terletak kurang lebih 1 km ke arah timur situs Sela. Bekas pusat pemukiman di masa awal pertumbuhan Kerajaan Buki tersebut adalah kebun kelapa yang dibudi daya oleh penduduk sekarang. Vegetasi lain yang tumbuh di situs ini, antara lain melinjo, kenari, mangga dan tumbuhan perdu yang cukup rimbun.

Indikasi arkeologis (khususnya variabel pemukiman) yang dijumpai  pada permukaan situs, yaitu sumur kuno dan artefak (fragmen keramik, gerabah) serta sisa-sisa makanan berupa fragmen dan utuhan kerang-kerang laut, seperti kerang jenis arcidae, veneridae, strombidae dan lain-lain. Dari sudut daya dukung lingkungan, situs ini didukung oleh adanya aliran sungai Bohe yang mengalir di sebelah utara situs juga unsur hara tanah di daerah ini cukup mendukung dalam pertumbuhan beberapa jenis tanaman penunjang kehidupan manusia di masa itu.

Hal lain yang dijumpai pada permukaan situs, yaitu adanya bekas-bekas lubang penggalian liar (ilegal) untuk mencari barang-barang antik dari sejak tahun 60-an hingga masa sekarang. Dari sisa-sisa penggalian liar itulah meninggalkan pecahan artefak dan non-artefak. Sebaran temuan pada permukaan mencapai kisaran kurang lebih 500 meter persegi.

Sesuai keterangan bapak Zainuddin (mantan penilik kebudayaan) sebagai salah satu tokoh masayrakat Buki, bahwa sebelum pusat Kerajaan Buki menempati lokasi di puncak bukit, lokasi pusat pemukimannya terletak di situs Sela Melayu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *