Situs Matano

Dalam batas administrasi, situs ini berada dalam wilayah kampung Matano, Desa Nuha, Kecamatan Nuha dengan posisi pada GPS adalah 2°27’24.2” Lintang Selatan dan 120°12’57.7’ Bujur Timur atau berada pada sisi barat Danau Matano yang merupakan salah satu danau terdalam di dunia (Reid, 1990: 109). Permukaan danau tersebut mencapai 509 meter di atas permukaan laut, namun dasarnya berada 80 meter di bawah permukaan laut. Palung yang terjal membelah dasar danau ini yang mengandung batu kapur di barat dayanya dan batu besi disebelah utaranya. Merefleksi potensi yang sangat berbeda untuk pertanian dari dua dasar geologis ini, kebanyakan kaki bukit di sepanjang sisi barat daya digunakan untuk ladang, sementara hutan utama berada di sepanjang sisi utara. Operasi penambangan nikel terbesar di dunia yang dikelola PT. INCO berlokasi di perbukitan Soroako tepat di sebelah tenggara danau ini. Potensi Kampung Matano sebagai situs arkeologis-historik, khususnya dalam menemukan biji besi bermuatan nikel, pertama kali dibawa ke dunia ilmuan oleh Caldwell (1993-1994). Bahkan, sebagian besar kampung ini berada di atas limbah penempaan besi  (iron slag) dengan ketebalan setengah meter berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh OXIS tahun 1999. Selanjutnya ekskavasi OXIS pada tiga titik (Rahampuu, Pangkaburu dan Lemogolla) di Matano telah menunjukkan bahwa situs ini merupakan situs pertambangan dengan temuan pendukung berupa lelehan besi dan tungku peleburan, fragmen tembikar serta serpihan-serpihan batu yang diperkirakan sebagai pemantik api (Bulbeck, 1999).

Survei tim Balar tahun 2008, selain menambah data sebelumnya juga sekaligus mencari data baru untuk mendukung hipotesa bahwa besi bermuatan nikel dikerjakan dan diekspor ke Jawa sebagai pamor Luwu pada abad ke-13 Masehi. Namun data artefaktual yang ditemukan dalam penelitian ini, hanya berupa terak besi dan beberapa pecahan tembikar serta pecahan keramik dari masa yang  lebih muda. Tidak ditemukannya keramik tua di situs tersebut kemungkinan karena situs ini tidak menjadi pemukiman pada masa itu (sekitar abad 13), dan hanya tempat menggali biji besi yang bermuatan nikel untuk ditempa di tempat lain (mungkin Ussu atau Cerekang ?).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *