Situs Loko Palaro

Situs ini berada di sebelah barat situs Collo (Bambapuang), di tepi jalan poros Kotu -– Cendana dan Singki. Secara administratif, situs ini terletak di kampung Parinding, Desa Tindalun, Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang. Situs Loko Palaro masih merupakan bagian dari rangkaian gugus pegunungan Buttu Tinoring, sebuah bukit tempat penemuan situs pemukiman di puncak bukit sebelah selatan situs Collo.

Situs Loko Palaro merupakan area penguburan ceruk pada suatu gua payung yang terpisah oleh suatu celah melintang sepanjang kurang lebih 15 meter. Di bawah celah pemisah berserakan fragmen gerabah dan tulang manusia. Bagian barat dari celah, di sisi dinding selatan sepanjang 7 meter dan baratnya 8 meter ditemukan titik konsentrasi artefak tulang, gigi, dan tengkorak manusia, potongan kayu mandu, serta fragmen gerabah.Titik konsentrasi temuan juga berada pada sisi timur celah yang melintang utara-selatan konsentrasi tulang berada pada ceruk agak rendah 2 meter dari permukaan situs dengan mulut gua seluas 4 meter. Sayang sekali dari situs ini sudah tidak ditemukan lagi mandu yang utuh karena telah dirusak oleh penduduk. Mandu adalah wadah kubur yang terbuat dari bahan kayu berbentuk perahu yang biasanya memiliki tutup dan sayap.

Di lihat dari letak ceruk yang digunakan serta titik-titik konsentrasi artefak, nampak bahwa mandu ditempatkan mengikuti kondisi ceruk dan dinding. Mandu di situs Palaro tidak memiliki ketentuan orientasi, hanya mempertimbangkan faktor morfologi ceruk. Berdasarkan sebaran artefaknya, jumlah mandu yang terdapat di situs Palaro cukup banyak. Namun, tak satupun mandu yang dapat diidentifikasi orientasinya, sebagaimana terlihat pada observasi tahun 2006 di situs Tontonan yang berorientasi timur-barat.

Dari situs ini ditemukan sejumlah fragmen gerabah dengan morfologi dan ciri sebagai berikut:

  1. Tempayan tebal (0,7 mm – 1,5 cm), kasar, berwarna merah (8 buah);
  2. Badan tipis (0,4 mm), halus, berwarna merah  (8 buah);
  3. Badan halus, tebal (0,9 mm) (4 buah);
  4. Badan berhias tipis (13 buah);
  5. Badan tebal, berhias (4 buah), motif daun.

Fragmen gerabah berhias pada umumnya memiliki dua motif, yaitu daun dan ayaman. Kedua motif dibentuk rata-rata menggunakan dua teknik sekaligus, yaitu (i) gores dan tusuk atau (ii) gores dan cungkil. Dari sejumlah sampel fragmen gerabah yang dikumpulkan hanya beberapa menggunakan teknik tunggal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *