Situs Collo

Balai Arkeologi Makassar telah melakukan eksplorasi pendahuluan pada situs ini tahun 2006. Dalam eksplorasi pendahuluan tahun 2006 telah ditemukan indikator kuat Collo sebagai situs, berupa fragmen gerabah, alat batu (serpih), monumen tradisi megalitik (batu Tomanurung dan Batu Tedong) serta bunker tentara Jepang. Situs ini secara geografis terletak di sebelah barat kaki Gunung Bampapuang pada 03°28’592” Lintang Selatan dan 119°46’791” Bujur Timur dengan ketinggian 1157 meter di atas permukaan laut. Situs yang berada di wilayah Desa Kindalun, Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang. Diketahui mengandung potensi artefak cukup luas dan diperkirakan sebagai pemukiman komunitas pendukung kebudayaan penguburan ceruk di sekitar Bambapuang. Untuk memastikan peran situs ini di masa awal, tim melakukan survei intensif di situs Collo tahap II serta mengeksplorasi kawasan yang lebih luas ke arah selatan, timur dan barat dengan harapan memperoleh situs-situs baru yang dapat memberi informasi lebih dalam. 

Dalam survei sesi kedua di situs Collo, tim membagi situs ke dalam dua sektor: Sektor I di sekitar hutan pinus dan sektor II di sebuah bukit sebelah selatannya, tepatnya pada kebun Ambe Nura’. Dalam survei di sektor I situs Collo ditemukan 10 keping tepian periuk gerabah dan 20 buah badan. Selain itu, dari sektor I juga ditemukan 1 buah bahan alat (andesit), 3 buah alat serpih, 16 buah tatal dari bahan gamping kersikan, dan 1 buah gigi binatang (?). Khusus gerabah yang ditemukan dari sektor I dapat dibedakan ke dalam tujuh ciri fisik, yaitu:

  1. Tepian periuk tebal, kasar, warna bahan merah (5 buah);
  2. Tepian periuk tipis, kasar, warna bahan merah (1buah);
  3. Badan periuk tipis, halus, warna bahan abu-abu  kecoklatan (1 buah);
  4. Badan periuk tebal, kasar, warna bahan merah (6 buah);
  5. Badan periuk tipis, kasar, warna bahan merah (9 buah);
  6. Badan periuk tipis, halus, warna bahan merah (3 buah);
  7. Badan periuk tipis, halus, berjelaga/hitam (1 buah)

Di sektor II situs Collo, tim menemukan 4 tepian periuk, 15 badan periuk dan 1 buah tepian pasu. Berdasarkan morfologi dan ciri fisiknya, gerabah yang ditemukan di sektor II bagian puncak bukit (lahan Ambe Nura’) dapat dibedakan atas 6, yaitu:

  1. Tepian periuk tebal, halus, berwarna merah (4 buah)
  2. Badan periuk tebal, kasar, berwarna merah (2 buah);
  3. Badan periuk tebal, halus, berwarna merah (6 buah);
  4. Badan periuk tipis, halus, berwarna merah (4 buah);
  5. Badan periuk tipis, halus, berwarna coklat tua (3 buah); dan
  6. Tepian pasu tebal, halus, berwarna coklat tua (1 buah)

Dari duapuluh keping gerabah yang ditemukan, 2 buah diantaranya berjelaga. Di bagian lereng bukit sektor Collo II (dekat dengan sumber air), juga ditemukan sejumlah fragmen gerabah dengan morfologi dan ciri sebagai berikut:

  1. Tepian tempayan tebal, kasar, berwarna merah (1 buah);
  2. Tepian tempayan tebal, kasar, berwarna merah, dan berhias teknik impress (1 buah);
  3. Karinasi periuk tipis, halus, berwarna merah (1buah);
  4. Badan periuk tipis, kasar, berwarna merah (2 buah);
  5. Badan periuk tebal, halus, berwarna merah (3 buah);
  6. Badan periuk, tebal, kasar, berwarna merah (1 buah);

Selain fragmen gerabah, artefak lain yang ditemukan berupa 2 buah tulang binatang, 1 buah bahan alat (gamping kersikan, tulang kerbau yang mengalami fosilisasi (1 buah), dan 1 buah tatal  (gamping kersikan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *